πŸŽ‰ Selamat datang di Vegaz Donghua | Tempat Nonton Donghua | BTTH, Renegade Immortal, dan lainnya πŸŽ‰

Tales of Herding Gods Ep 53 Sub Indo

Share: Facebook Twitter WhatsApp Telegram Email Copy Link

Deskripsi:

Namun saat keluar dari istana, dunia luar telah berubah menjadi kegilaan. Kabut dupa menyelimuti udara—**Dupa Kebingungan yang Hilang**. Para kultivator mulai berteriak dan saling membunuh dalam halusinasi Pedang patah itu… tampak lemah, tapi disimpan di tempat paling dalam. Dalam diam, ia tahu: benda itu menyimpan rahasia yang melampaui para dewa.

Now Playing: Tales of Herding Gods Ep 53
Tales of Herding Gods Episode 52 Multisub

Tales of Herding Gods Information:

  • Status: Ongoing
  • Season: Fall 2024
  • Rilis: Oct 27, 2024
  • Durasi: 20 minutes /ep
  • Tipe: Donghua
  • Negara: China
  • Network: Bilibili
  • Studio: Sparkly Key Animation Studio
  • Posted By: Vegaz
Action Adventure Fantasy

Sinopsis Tales of Herding Gods Episode 53

Bayangan di Istana Emas


Di kedalaman tanah suci Loulan, di mana cahaya matahari berkelindan dengan kabut spiritual berwarna emas, berdiri sebuah istana megah yang telah lama dilupakan zaman—**Istana Emas**. Di sanalah gema dari kehidupan para kultivator besar masih menggema di antara dinding-dinding batu berukir mantra kuno, dan aroma darah serta dupa bercampur menjadi satu kesunyian yang sakral.


“Harta karunnya ada di bagian terdalam. Tubuh bagian bawah Kakek Tu seharusnya ada di sana.”

Langkah seorang pemuda bergema lembut di aula sunyi. Matanya berkilat bagai bintang-bintang di langit malam, menelusuri reruntuhan perbendaharaan yang telah lama disegel. Di luar, Fat Seven—makhluk setengah roh, setengah daging—masih menahan pintu dengan sisa kekuatannya, sementara waktu yang tersisa semakin menipis.


“Diagram kultivasi Teknik Tiga Ramuan Tubuh Tiran…”

Bisikan itu mengalir bagai mantra. Ia membuka gulungan kuno, melihat diagram tubuh manusia berlapis rune yang berdenyut seperti hidup. Namun hatinya tenggelam—teknik itu bukan berasal dari Alam Lima Cahaya. Ia tahu, kekuatannya belum cukup untuk menanggung beban ilmu semacam itu.


Di altar tengah, separuh tubuh berwarna emas terbaring tenang, memancarkan cahaya suci namun juga hawa dingin yang menggigit jiwa. Tidak ada darah, tidak ada bekas luka—seolah tubuh itu tak pernah hidup sebagai manusia.


“Aura sisa ini... bahkan lebih kuat dari Raja Penyihir. Mungkinkah ini tubuh Sang Penyihir Berdaulat?”

Desas-desus yang ia dengar selama bertahun-tahun mulai terjalin dalam pikirannya. Tubuh Kakek Tu—salah satu legenda dunia kultivasi—tidak lenyap, melainkan disatukan dengan tubuh Sang Penyihir Berdaulat sendiri. Sebuah kegilaan… atau puncak dari obsesi terhadap kesempurnaan fisik dan kekuatan mutlak.


Namun waktu tidak memberi belas kasihan. Segel kuno di dinding berubah bentuk bagai pusaran bintang.


“Segelnya berubah setiap saat. Kecuali kau tahu polanya, bahkan jimat tertinggi tak bisa merusaknya.”

Ia menutup matanya, menarik napas dalam. Dalam keheningan, langit batinnya terbuka—bintang-bintang ungu berputar, membentuk pola ramalan surgawi.


“Sekarang… hitunglah dengan Ramalan Bintang Ungu.”

Runik bercahaya bangkit di sekelilingnya, menari seirama dengan denyut jantung bumi. Di saat segel bergeser sepersekian napas, tubuhnya melesat bagai kilat. **Kaki Dewa Pencuri Langit**, **Tangan Dewa Penukar Matahari**—dua teknik legendaris yang jika digunakan bersama, dapat menembus bahkan jalinan ruang dan waktu.


“Menggembirakan!”

Ia berhasil. Tapi kemenangan itu pahit. Setiap kali ia memaksa tubuhnya melampaui batas, bayangan Kakek Tong—yang kehilangan akal dan berubah menjadi abadi tanpa jiwa—selalu menghantuinya.


Di sudut ruangan, siter kuno berwarna merah darah memancarkan hawa jahat.


“Lebih seperti iblis besar yang menakutkan… mungkinkah itu roh pohon yang dibudidayakan menjadi iblis, lalu dijadikan alat musik?”

Ia berjalan melewati menara mini dari batu giok, tangan dewa, dan pedang patah. Harta tak ternilai bertebaran, namun semuanya terasa hampa di hadapan kesunyian.


Pedang patah itu… tampak lemah, tapi disimpan di tempat paling dalam. Dalam diam, ia tahu: benda itu menyimpan rahasia yang melampaui para dewa.


“Jika aku mengambil semua harta dari Istana Emas… apakah itu berlebihan?”

Ia hanya tertawa lirih, meninggalkan benda-benda jahat yang memancarkan hawa dendam, lalu bersiap membawa para saudaranya keluar dari neraka emas itu.


Namun saat keluar dari istana, dunia luar telah berubah menjadi kegilaan. Kabut dupa menyelimuti udara—**Dupa Kebingungan yang Hilang**. Para kultivator mulai berteriak dan saling membunuh dalam halusinasi.


“Buah Ungu Mutiara Merah Tua… hanya itu penawarnya.”

Ia menatap gadis di sisinya—wajahnya pucat namun matanya tetap jernih. Ia melindunginya dengan tangan yang telah berlumur darah, sementara dunia di sekeliling mereka terbakar oleh racun dan ilusi.


“Apakah Junior Brother benar-benar berhasil?” “Kakak Senior akan menahan mereka. Larilah!”

Langit retak, gunung bergemuruh, dan bayangan Raja Penyihir turun dari awan hitam. Tapi di bawah terik bulan darah, mereka menunggang **Sapi Biru** melintasi tanah yang porak-poranda, meninggalkan kehancuran di belakang mereka.


Berhari-hari kemudian, mereka tiba di sebuah desa terpencil. Di sana, manusia hidup sederhana, jauh dari hiruk-pikuk peperangan para sekte. Orang tua desa menyambut mereka dengan tangan terbuka, tidak tahu bahwa tamu mereka membawa rahasia yang dapat mengguncang langit dan bumi.


Dalam kedamaian malam, gadis itu berbicara lirih di bawah cahaya lentera.


“Jika si Penggembala Sapi dan aku punya anak dan membawanya pulang… Ayah Kaisar pasti akan marah besar.”

Ia tertawa pelan, namun di balik senyum itu tersimpan kesedihan mendalam. Karena mereka tahu—ketenangan ini hanyalah jeda singkat sebelum badai berikutnya.


Dan ketika langit di utara bergetar, mata bintang yang gelap muncul dari balik awan—**Mata Raja Penyihir** mencari mereka kembali.


“Untungnya, formasi penyembunyian telah siap… tapi jika dia mencari sejauh ini, berarti sang guru tidak dapat menghentikannya.”

Di bawah cahaya bulan yang muram, sang Penggembala Sapi mengepalkan tangan, menatap ke arah pegunungan tempat gurunya terakhir terlihat.


Perjalanan baru dimulai. Dan di balik langit yang seolah damai, bayangan para dewa dan iblis tengah menanti kebangkitan berikutnya.



Sinopsis By: Vegaz Donghua

Komentar